FfbrH7Hd32dBIzJfRUFjQOMyo355V6UzX2vYTtb5

Inilah Perbedaan Bisnis Reseller Dengan Dropship

Perbedaan bisnis reseller dengan dropship
Jika ingin memulai bisnis kita gak harus punya produk sendiri, apalagi produksi sendiri. Jika kita masih merintis atau baru memulai bisnis sebaiknya jangan terlalu fokus dengan produksi, fokuslah pada penjualan.

Untuk produksi atau penyediaan produk sebaiknya kita cari supplier atau agen yang memproduksi barang tersebut. Sebagai contoh, kita ingin menjual produk pakaian muslim, maka sebaiknya carilah produsennya. Selain bisa menghemat biaya kita juga bisa lebih fokus jualan dan membangun brand.

Anda bisa memulai bisnis dengan cara menjadi Reseller atau Dropshiper. Anda tinggal cari produsen atau supplier, ambil barangnya dari sana, dan bisa langsung jualan.

Oh ya, sudah tahu apa itu Reseller dan Dropshiper?

Keduanya ini adalah salah satu cara yang paling diminati saat ini oleh orang-orang yang ingin memulai bisnis. Keduanya ini juga mempunyai sistem yang berbeda, tapi tak jarang masih banyak orang yang belum bisa membedakan antara reseller dan dropshiper.

Untuk lebih jelasnya silahkan simak beberapa perbedaan Bisnis reseller dangan Dropship berikut ini.

1. Stock barang

Perbedaan pertama ada pada sistem penyetokan barang. Reseller ini mempunyai stok barang di rumah atau di gudang sendiri. Mereka membeli produk terlebih dahulu kepada supplier dan dikirim ke tempat mereka, kemudian baru mereka melalukan penjualan.

Sedangkan Dropshiper tidak menyetok barang sendiri. Barang yang mereka jual ada di gudang supplier atau agen, jika ada pembeli yang membeli ke pada dropshiper maka barang akan dikirim langsung dari supplier ke konsumen.

2. Modal

Dari sisi modal, reseller tentu membutuhkan modal di awal untuk membeli barang yang ingin dijual kembali. Misalkan Anda adalah seorang reseller produk gamis, maka Anda harus membelinya terlebih dahulu, baru Anda jual di tempat Anda sendiri.

Sedangkan dropshiper hampir tidak membutuhkan modal di awal karena mereka tidak perlu membeli barang untuk stok sendiri. Mereka hanya akan membeli barang jika ada pesanan dari konsumen, setelah konsumen melakukan transaksi pembelian, barulah dropshiper meneruskan pesanannya ke supplier.

Jadi, reseller membutuhkan modal di awal untuk beli stok produk, sedangkan dropshiper tidak.

3. Strategi Penjualan

Kalau dari sisi strategi marketing saya rasa tidak banyak perbedaan. Tapi reseller lebih mudah menawarkan produk ke konsumen karena mereka mempunyai stok sendiri dan mereka juga tahu pasti kualitas barang yang dijual, sehingga reseller lebih gampang  menjelaskan kepada konsumen jika mereka bertanya seputar produk yang dijual.

Sedangkan dropshiper tidak leluasa mempromosikan produk, dikarenakan stok berada digudang supplier sehingga tidak bisa memastikan apakah barang masih tersedia atau tidak, apalagi jika si supplier memiliki banyak dropshiper sehingga stok di gudang akan menjadi rebutan dengan dropshiper lainnya. Selain itu dropshiper juga tidak tahu pasti pasti kualitas barang yang dia jual sehingga akan sedikit kesulitan menjelaskan kualitas produk kepada konsumen.

4. Keuntungan

Setiap supplier mempunyai ketentuan yang berbeda-beda, ada yang memberikan harga lebih murah kepada reseller daripada dropshiper, ada juga yang sama. Tapi kebanyakan reseller akan mendapatkan harga yang lebih murah dibanding dropshiper, mungkin karena reseller membeli produk di awal sehingga mereka bisa medapat harga yang lebih baik.

Dengan begitu tentunya reseller akan mendapatan selisish keuntungan yang lebih besar dari pada dropshiper

5. Risiko

Risiko terbesar dalam jualan adalah tidak laku. Kalau kita bandingkan tingkat risiko antara reseller dengan dropshiper, tentunya risiko reseller lebih tinggi, Karena reseller membutuhkan modal awal untuk membeli stok barang, sehingga jika produk tidak terjual maka mereka akan rugi. Belum lagi jika mereka mengeluarkan biaya untuk promosi, maka tinggkat risiko mereka kan lebih tinggi.

Berbeda dengan dropshiper yang tidak membutuhkan modal sama sekali di awal, menunggu konsumen ada yang beli barulah mereka order barang ke supplier. Jadi risiko mereka tentang kerugian sangat kecil, bahkan hampir tidak ada.

Itulah bedanya bisnis reseller dangan dropshiper, keduanya mempunyai sistem dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Related Posts
Ady Kusanto
Seorang bloger yang hanya nulis diwaktu senggang

Related Posts

2 comments