FfbrH7Hd32dBIzJfRUFjQOMyo355V6UzX2vYTtb5

Cara Menghindari "Bakar Uang" Dalam Mendapatkan Pembeli

Menghindari bakar uang dalam bisnis untuk menghasilkan penjualan
Kemarin sempat ramai berita tentang Lippo Group yang terpaksa menjual saham OVO mereka sebesar 70 persen, dikarenakan tak sanggup terus-menerus "Bakar Uang".

Dikabarkan bahwa Lippo Group akan keluar dari OVO karena tidak sanggup jika terus menyuntik dana hingga sebesar 50 juta US dollar (700 milliar rupiah) per bulan.

Perusahaan sebesar Lippo Group saja tidak sanggup jika harus bakar uang terus menerus, apalagi jika perusahaan kita masih kembang kempis.

Untuk itu sebisa mungkin kita harus bisa meminimalkan budget pengeluaran untuk bisnis, namun tetap bisa menghasilkan secara maksimal.

Nah, untuk menghindari bakar uang dalam bisnis kita bisa menggunakan salah satu cara yang cukup efektif yaitu Sales funnel.


Apa itu sales funnel, silahkan simak penjelasannya berikut ini. Baca sampai selesai ya....

Kemarin ada yang bertanya ke saya seperti ini

Kenapa saya harus mempelajari sales funnel?

Sebelum saya menjawab pertanyaan diatas, perhatikan terlebih dahulu potongan berita ini.

Berita tentang Lippo Group menjual saham OVO
Mungkin ada satu metafora yang cocok dengan berita diatas:

Saat yang kita miliki hanya palu, maka semua akan terlihat seperti paku.

Artinya, jika kita hanya memiliki satu “alat”, yaitu untuk memukul, maka semua akan ingin kita pukul.

Padahal, bisa jadi solusinya bukan itu, dan “alat” yang kita butuhkan itu bisa saja gergaji misalnya, bukan palu.

Itu artinya, jika Anda hanya menguasai satu cara untuk mendatangkan pembeli ke bisnis Anda, melalui Facebook Ads misalnya, maka optimasi yang Anda lakukan hanya akan seputar Facebook Ads.

Mungkin tidak jauh-jauh dari otak atik budget.

Padahal, masih banyak sekali cara untuk mendatangkan pembeli, yang mungkin akan lebih efektif bagi bisnis Anda dibanding dengan jika Anda beriklan di Facebook.

Ini bukan berarti beriklan di Facebook itu salah, bukan. Facebook Ads merupakan salah satu cara termudah untuk mendatangkan pembeli.

Namun, “hanya” menggunakan Facebook untuk berbisnis menurut saya juga kurang tepat. Membuat sebuah bisnis menjadi ketergantungan dengan sebuah platform yang tidak pasti.

Dunia tidak selebar Facebook Newsfeed.

Jadi gimana? Leburkan Facebook dengan banyak cara mengolah pembeli.

Kembali ke budget iklan. Sisi lain dari kemudahan yang ditawarkan oleh Facebook Ads adalah: Semakin banyaknya bisnis yang menggunakan Facebook Ads.

Dalam kondisi persaingan sempurna, sang pemilik budget terbesarlah yang akan menang, dengan menimbulkan banyak korban.

Umumnya disebut dengan “Perang Gesekan”, saya pernah menuliskan tentang ini sebelumnya, ini cuplikannya:

=====

Bayangkan, suatu hari, Anda hadir dalam sebuah acara lelang.

Yang dilelang adalah uang Rp.100.000.- Ya, satu lembar uang 100ribu rupiah.

Loh, kok aneh?

Anda penasaran, akhirnya Anda tetap disana untuk melihat lelang tersebut berjalan.

Satu lembar uang 100ribu itu dibuka dengan harga 95ribu rupiah. Tapi ada syaratnya:

Siapapun yang menang lelang, akan mendapatkan satu lembar 100ribu itu.

Dan siapapun yang kalah lelang dan berada di nomor 2, itu harus membayar semua penawaran lelangnya, tapi tidak mendapat apa-apa.

Setelah semua yang hadir paham peraturannya, lelang dimulai.

Harga dibuka 95ribu. Lalu ada Jono yang menawar 105ribu. "Saya keluar duit 105ribu, dapat uang 100ribu, artinya cuma keluar 5ribu", itu pikirnya dalam hati.

Lalu kemudian Susi menawar, "110ribu" katanya.

Jono lalu berpikir, "loh, berarti yang tadinya saya hanya harus membayar 5ribu, jadinya harus bayar 105ribu karena saya berada di posisi no. 2".

Dengan gerak cepat Jono menawar: "120ribu!" katanya.

Susi kembali menawar: "130ribu!"

Jono naik lagi: "180ribu."

Dan begitu terus, sampai angka penawarannya membengkak.

"450ribu" kata Susi.

Jono mengeluarkan semua tabungannya dan menawar "500ribu".

Namun apa daya, Susi masih kuat, "550ribu" ia berkata.

Jono kalah, karena uangnya sudah tidak ada lagi. Akhirnya ia harus membayar 500ribu tanpa mendapatkan apapun.

=====

Walaupun cerita diatas terlihat aneh, fenomena ini cukup sering terjadi di hadapan kita.

Dalam Game Theory, fenomena diatas disebut dengan "War Of Attrition" atau perang gesekan.

Dalam militer, sering juga disebut dengan "Attrition Warfare", prinsipnya sama, yaitu "melemahkan" atau menggesek lawan sedikit demi sedikit, melalui kemenangan-kemenangan kecil, hingga akhirnya sang lawan kehabisan sumber daya.

Kunci strategi disini pada dasarnya ada di pengelolaan sumber daya, karena, seperti Susi, Anda harus memiliki sumber daya yang lebih besar dari lawan Anda.

Dengan kata lain, stamina Anda harus kuat. Anda harus bertahan lebih lama.

Dalam bisnis, kita sering melihat perang seperti ini, misalnya di Marketplace ada Tokopedia VS Bukalapak, dalam dunia transportasi ada Gojek VS Grab, dll.

Dan “perang” inilah yang memukul mundur OVO dari gambar yang saya tunjukkan diatas.

Dalam dunia militer, strategi ini sangat dihindari karena selain bisa menghabiskan banyak uang, juga biasanya menimbulkan banyak korban jiwa dari kedua belah pihak. Karena biasanya berakhir dalam kondisi tentara siapa yang jumlahnya masih lebih banyak daripada lawannya.

Namun dalam bisnis, hal ini seperti tidak bisa dihindari. Kondisi seperti ini seringnya "mendatangi" Anda tanpa Anda inginkan.

=====

Intinya: “Bakar uang” itu mudah, kalau ada yang mau dibakar. Inilah kenapa setiap bisnis yang mendapatkan pendanaan langsung bakar uang untuk promosi, karena ya memang ini mudah.

Dalam dunia nyata, tidak semua bisnis akan memiliki kemampuan bakar uang seperti Gojek, atau mungkin OVO.

Karenanya hanya dengan mengandalkan budget iklan saja, tidak akan cukup. Suatu hari, persaingan budget sebuah bisnis akan ketemu batasnya.

Karenanya, sekaligus untuk menjawab pertanyaan di awal tulisan ini, inilah kenapa kita harus mempelajari sales funnel: Agar bisa menggunakan sebanyak mungkin cara yang kita bisa untuk mendatangkan pembeli.

Sales Funnel adalah sebuah cara mudah untuk memvisualisasikan perjalanan pelanggan atau yang biasa disebut customer journey, melalui proses penjualan Anda. 

inti dari proses ini adalah perjalanan mulai dari bagaimana Anda mengundang traffic atau pengunjung lalu mendapatkan kontak mereka, mengubah kontak itu menjadi prospek bisnis Anda, hingga akhirnya meyakinkan mereka untuk “close the deal” atau bertransaksi.


Biasanya kontak-kontak pembeli ini berupa nomor hp, WA, Email, dll. Setelah terkumpul, kedepannya Anda bisa mengelola kontak-kontak tersebut untuk keperluan promosi.

Dan tentunya, yang harus diperhatikan adalah konsumen harus benar-benar secara suka rela memberikan kontak mereka.

Caranya bagaimana? Sebenarnya ada banyak cara untuk bisa mendapatkan kontak mereka, salah satunya bisa menggunakan kupon diskon misalkan. Untuk mendapatkan kupon nya mereka harus memberikan kontak terlebih dahulu.

Related Posts
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar